Proses produksi film di era digital

 


Nama    : Muhammad Raihan Arrafi

Npm      : 54419355

Kelas    : 2IA07

Mata kuliah : Peng. Tek. Internet. Dan New Media




1.       Proses Produksi Film Digital dan Proses Setelah Produksi

 

Tahap Produksi Film

Tahap Produksi adalah proses yang paling menentukan keberhasilan penciptaan sebuah karya film. proses yang dalam kata lain bisa disebut dengan shooting (pengambilan gambar) ini dipimpin oleh seorang sutradara, orang yang paling bertanggung jawab dalam proses ini. orang yang ikut dalam proses ini antara lain kameraman atau DOP (Director Of Photography) yang mengatur cahaya, warna, dan merekam gambar. Artistik yang mengatur set, make up, wardrobe dan lain sebagainya. dan Soundman yang merekam suara.

Tahapan ini dimana hampir seluruh team work mulai bekerja. Seorang sutradara, produser atau line produser sangat dituntut kehandalannya untuk mengatasi kru dalam tiap tahap ini. Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan adalah :

·       Manajemen Lapangan

Manajemen lapangan mencakup beberapa hal, yaitu:

1)     Manajemen lokasi ( perijinan, keamanan, keselamatan )

2)     Talent koordinasi ( koordinasi kostum, make up dll )

3)     Manajemen waktu ( koordinasi konsumsi, kecepatan kerja, penyediaan alat )

4)     Crew koordinasi ( koordinasi para kru )

 

·       Shooting

Tahap ini adalah tahap dimana kepiawaian sutradara, DOP, dan kru sangat menentukan. Kualitas gambar adalah selalu ingin kita capai. Oleh karena itu penguasaan kamera dan ligthing sangatlah penting. Untuk mencapai hasil maksimal dengan alat yang kita gunakan, ada beberapa hal yang harus kita ketahui.

1. Shooting Outdoor

Shooting outdoor biasa menekan budget, namun harus berhati-hati melakukannya karena sangat bergantung dari keadaan cuaca saat syuting dilakukan. Beberapa yang harus dipersiapkan saat syuting outdoor adalah :

1)     cahaya matahari ( hard, soft )

2)     reflector ( silver, gold )

3)     hujan buatan

4)     camera setting ( irish, speed, white balance, focus)

5)     crowd control ( working with ekstras )

 

2. Shooting Indoor

Shooting indoor lebih cepat terkontrol daripada shooting outdoor, namun dibutuhkan peralatan yang cukup lengkap. Antara lain :

1)     penggunaan lighting sederhana

2)     penggunaan filter

3)     make up

4)     pemilihan back ground

5)     monitor

 

3. Visual Efek

Beberapa trik mudah untuk dilakukan untuk membuat video kelihatan lebih menarik antara lain dengan :

1)     reserve motion

2)     fast motion ( normal lipsync )

3)     slow motion (normal lipsync )

4)     crhoma key ( blue screen )

Beberapa hal lain pada saat produksi yang juga perlu untuk diperhatikan yaitu :

1)     makan/ logistik

2)     sewa peralatan

3)     film

4)     transportasi

5)     akomodasi

6)     telekomunikasi

7)     dokumentasi

8)     medis

 

4. Tata Setting

Set construction merupakan bangunan latar belakang untuk keperluan pengambilan gambar. Setting tidak selalu berbentuk bangunan dekorasi tetapi lebih menekankan bagaimana membuat suasana ruang mendukung dan mempertegas latar peristiwa sehingga mengantarkan alur cerita secara menarik.

5. Tata Suara

Untuk menghasilkan suara yang baik maka diperlukan jenis mikrofon yang tepat dan berkualitas. Jenis mirofon yang digunakan adalah yang mudah dibawa, peka terhadap sumber suara, dan mampu meredam noise (gangguan suara) di dalam dan di luar ruangan.

6. Tata Cahaya

Penataan cahaya dalam produksi film sangat menentukan bagus tidaknya kualitas teknik film tersebut. Seperti fotografi, film juga dapat di ibaratkan melukis dengan menggunakan cahaya. Jika tidak ada cahaya sedikitpun maka kamera tidak akan dapat merekam objek.

Penataan cahaya dengan menggunakan kamera video cukup memperhatikan perbandingan Hi light (bagian ruang yang paling terang) dan shade (bagian yang tergelap) agar tidak terlalu tinggi atau biasa disebut hight contrast. Sebagai contoh jika pengambilan gambar dengan latar belakang lebih terang dibandingkan dengan artist yang sedang melakukan acting, kita dapat gunakan reflektor untuk menambah

7. Pasca Produksi

Pada tahap ini hasil rekaman akan dilakukan editing, penataan suara, penambahan efek, scoring music, dan colour grading. Untuk di tahap ini, bukan cuma seorang editor saja yang berperan untuk menentukan potongan-potongan gambar. Tetapi, sutradara dan produser juga perlu menjaga keutuhan cerita.

 

Tahap Setelah Produksi

Distribusi film (bahasa Inggris: Film distribution), adalah proses untuk membuat sebuah film menjadi tersedia untuk dilihat oleh penonton. Ini biasanya merupakan tugas distributor film profesional, yang akan menentukan strategi pemasaran untuk film, media di mana film dapat dipamerkan atau dibuat tersedia untuk dilihat, dan yang dapat menetapkan tanggal rilis dan hal-hal lainnya. Sebuah film mungkin akan dipamerkan secara langsung kepada masyarakat baik melalui bioskop atau televisi, atau hiburan pribadi (termasuk VHS, video-on-demand, unduh, program televisi melalui siaran sindikasi dll). Untuk proyek-proyek komersial, distribusi film biasanya disertai dengan promosi film tersebut.

 

2.       Jelaskan tentang cara distribusi dan pertunjukan film digital

Pendistribusian Film Digital

Untuk menghasilkan sebuah film yang dapat diterima masyarakat, tentu saja harus melalui riset yang panjang. Riset tentu saja diperuntukkan guna menemukan selera apa yang diinginkan masyarakat, sehingga industry film mampu menciptakan film yang sesuai. Strategi dalam memproduksi hingga mendistribusikan film juga perlu dipertimbangkan.

 

Strategi selanjutnya adalah proses waralaba. Waralaba ini banyak diterapkan untuk memperluas area produksi dalam label yang sama. Misalnya, kalau di Indonesia adalah film “Ada Apa Dengan Cinta”. Film tersebut diproduksi secara berkelanjutan sehingga dapat menarik perhatian masyarakat terhadap film tersebut. Tidak hanya itu, teknik waralaba juga bisa dalam bentuk merchandise seperti benda-benda pajangan, dll.

 

Eksibisi & Distribusi Film

Eksibisi Film adalah tahap akhir dari sederetan panjang dari proses produksi dalam film. Eksibisi film itu sendiri diartikan dengan sebuah tahap akhir dalam proses produksi yang memperlihatkan hasil akhir dari film kepada masyarakat setelah melewati proses development, pra produksi, produksi dan pasca produksi. Eksibisi film selalu dikaitkan dengaan distribusi film. Seperti kebanyakan bisnis, produksi film terkait dengan membuat produk (produksi), melakukan distribusi dan juga menjual barang tersebut. Oleh karena itu dalam bisnis perfilman yang perlu diperhatikan adalah 3 tahap yaitu produksi, distribusi dan eksibisi.

 

Tahap eksibisi film sering kali dilupakan oleh kru filmnya khususnya oleh seorang produser. Seorang produser seharusnya dari awal produksi (tahap development ataupun pra produksi) sudah memikir kemana film ini akan diputar nantinya ketika film tersebut sudah release dan dipertunjukkan di bioskop. Film terbentuk atas sederetan proses produksi sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh, film tidak hanya terbatas dibuat tetapi juga harus bisa disampaikan kepada masyarakat, oleh karena itu film perlu tempat untuk memutarkannya (eksibisi).

 

Setelah proses produksi selesai kemudian masuk dalam proses pasca produksi, proses pasca produksi adalah proses melakukan editing oleh editor, merapikan semua suara oleh soundman dari materi ketika proses produksi, dan melalukan married print antara gambar dan audio. Bila tahap pasca produksi telah selesai maka bisa dikatakan film telah menjadi satu kesatuan yang utuh, tapi tidak sampai pada tahap tersebut masih ada proses distribusi dan eksibisi.

 

Proses distribusi adalah proses melakukan distribusi film tersebut, pada tahap ini biasanya dikerjakan oleh seorang produser distributor tapi bila di Indonesia tahap umumnya dikerjakan sendiri oleh produser. Selain ini proses terakhir dalam produksi film adalah eksibisi, di tahap ini film diperlihatkan kepada masyarakat. Proses distribusi dan eksibisi tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling berhubungan.

 

3.       Apa perbedaan perfilman sebelum dan sesudah era digital

Sebelum munculnya era digital, film layar lebar biasanya menggunakan media seluloid yang relatif mahal. Dalam perekaman durasi hitungan menit, harganya mencapai jutaan rupiah.Beberapa tahun yang lalu, menggunakan media rekam seluloid dalam durasi 4 menit, produser film layar lebar harus mengeluarkan kocek Rp. 2,5 juta. Hitungan matematisnya, jika film durasi 90 menit, biaya yang dikeluarkan untuk media rekam seluloid adalah : (90:4) x Rp. 2,5 jt = Rp. 56.250.000,- belum termasuk scene-scene alternatif jika dibutuhkan untuk alternatif visual. Maka untuk biaya satu buah film layar lebar durasi 90 menit dengan alternatif visual yang cukup, otomatis lebih dari Rp. 56 juta. Sekali lagi ini hanya untuk biaya media rekam seluloid! Belum termasuk biaya-biaya yang lain (artis/pemain, lighting, kru film dan lain sebagainya).Dengan biaya yang cukup mahal ini, produksi film layar lebar sangat berimplikasi pada kesiapan semua yang terkait dengan shooting produksi film. Dari properti, semua equipment pendukung (lighting dan lain-lain) sampai pada kesiapan pemain harus betul-betul matang. Sebab jika terjadi kesalahan dalam adegan, maka harus mengulang (re-take). Jika ini terjadi, sekian juta melayang begitu saja. Ini yang mungkin membuat seorang sutradara atau produser terkadang keras dan sering naik darah jika terjadi kesalahan dalam adegan.

 

Sesudah di Era digital, membawa efek yang berbeda. Produksi film layar lebar tidak 'wajib' dengan media seluloid. Dengan kamera digital DSLR pun jadi. Tentu dengan format tertentu. Dan harganya pun  lebih murah dibandingkan dengan media seluloid. Sutradara pun tidak harus naik pitam jika terjadi kesalahan dalam adegan. Meskipun hal-hal semacam ini ada batasannya. Artinya beberapa kesalahan masih bisa ditolerir sepanjang tidak keterlaluan.

Kesuksesan film-film digital tersebut berimbas para sistem sinema di dunia. Banyak bioskop yang akhirnya menggunakan proyektor digital dan meninggalkan proyektor film konvensional. Proyektor digital yang dikenal dengan nama DLP (Digital Light Processing) sanggup menayangkan film digital dengan resolusi 2K (2048×1080 atau 2,2 megapixels) dan 4K (4096×21960 atau 8.8 megapixels). Sistem pendistribusian film pun tidak lagi memakai reel seluloid, namun menggunakan file digital DCP (Digital Cinema Package) berbentuk hard-drive yang nantinya dikopi ke dalam server internal bioskop yang akan menayangkan filmnya.

Tahun 2002, major studios Hollywood membentuk suatu organisasi bernama Digital Cinema Initiative (DCI). Organisasi ini diciptakan untuk menentukan standar arsitektur untuk bioskop digital agar tercapai model yang seragam secara global, berkualitas tinggi dan tangguh. Dengan mengacu pada standar Society of Motion Picture and Television Engineers (SMPTE) maupun International Organization for Standardization (ISO) maka ditentukan standar atau format tertentu yang harus diaplikasikan untuk menyiapkan master materi film, sistem distribusinya, sampai ke urusan perlindungan isi film (content), pengacakan (encryption), dan penandaan khusus untuk menghindari pembajakan (forensic marking). Semua teknologi bioskop digital yang memenuhi persyaratan mereka disebut DCI Compliance (sesuai dengan DCI). Perbedaan dasar antara sinema analog dengan digital adalah cara pengemasannya (packaging), distribusi, dan penayangannya.

 

4.       Aliran Dalam Pembuatan Film

Pembuatan film (dalam konteks akademis sering disebut produksi film) adalah proses pembuatan suatu film, mulai dari cerita, ide, atau komisi awal, melalui penulisan naskah, perekaman, penyuntingan, pengarahan dan pemutaran produk akhir di hadapan penonton yang akan menghasilkan sebuah program televisi. Pembuatan film terjadi di seluruh dunia dalam berbagai konteks ekonomi, sosial, dan politik, dan menggunakan berbagai teknologi dan teknik sinema. Biasanya pembuatan film melibatkan sejumlah besar orang, dan memakan waktu mulai dari beberapa bulan hingga beberapa tahun untuk menyelesaikannya, meski bisa lebih lama lagi jika muncul masalah produksi. Produksi film besar terlama terjadi pada The Thief and the Cobbler selama 28 tahun

 

 

Sumber :

https://jogameblog.wordpress.com/2018/11/16/2-5-jelaskan-cara-memproduksi-film-digital/

https://studioantelope.com/tahap-produksi-film/

https://id.wikipedia.org/wiki/Distribusi_film#:~:text=Distribusi%20film%20(bahasa%20Inggris%3A%20Film,tersedia%20untuk%20dilihat%20oleh%20penonton.

https://wahyunion.wordpress.com/2016/10/14/bab-4-digital-cinema-distribusi-dan-pertunjukan-film-digital/

http://juniorohimton26.blogspot.com/2017/10/artikel-perbedaan-perfilman-di-era.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Pembuatan_film

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hak Cipta

Review Sistem Keamanan Komputer (M10)

Keamanan dari Program Jahat