Kebudayaan
MAKALAH
KEBUDAYAAN
Nama : Muhammad Raihan Arrafi
Kelas : 1IA11
NPM : 54419355
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat petunjuk dan
bimbingan-Nya, penulisan makalah berhasil menyelesaikan dengan, judul “TARI
JAIPONG” yang berisi pemahaman materi bagi mahasiswa sebagai sarana belajar
agar mahasiswa lebih aktif dan kreatif.
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi
dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan
dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam
penyusunan Makalah Ilmu Budaya Dasar ini masih terdapat banyak kekurangan dan
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik serta
saran yang membangun guna menyempurnakan makalah ini dan dapat menjadi acuan
dalam menyusun makalah-makalah atau tugas-tugas selanjutnya.
Penulis juga memohon maaf
apabila dalam penulisan Makalah Ilmu Budaya Dasar ini terdapat kesalahan
pengetikan dan kekeliruan sehingga membingungkan pembaca dalam
mememahami maksud penulis.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................................
DAFTAR ISI.........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan.....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah
dan Perkembangan Tari Jaipong................................................................
2.2 Gerakan
Tari Jaipong..............................................................................................
2.3 Macam-macam
Penari Jaipong................................................................................
2.4 Macam-macam
Alat Musik Tari Jaipong................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.............................................................................................................
3.2 Saran.......................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tari jaipong
adalah sebuah jenis tarian tradisional masyarakat sunda, jawa barat, yang cukup populer di Indonesia. Dewasa ini tari
Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal
ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari
negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari
Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa
dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak memengaruhi
kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni
pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir
semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan
dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh
Mr. Nur & Leni.
Dalam kehidupan
sehari-hari cenderung masih banyak orang yang kurang mengetahui tentang
selu-beluk tari jaipong, khususnya bagi masyarakat Jawa Barat sendiri.
Berdasarkan
permasalahan di atas agar dapat lebih menambah wawasan mengenai tari jaipong,
dapat dilakukan dengan membaca dari berbagai sumber buku, membuka internet,
maupun bertanya kepada orang yang lebih tahu, sehingga kita tertarik untuk
mempelajari tari jaipong sebagai salah satu usaha pelestarian kebudayaan Jawa
Barat.
Terkait dengan
permasalahn di atas, penyusun tertarik untuk membuat makalah yang berjudul
“Tari Jaipong” sebagai langkah peluasan pengetahuan dan wawasan tentang tri
jaipong.
1.2 Rumusan Masalah
·
Bagaimanakah
sejarah terbentuknya tari jaipong?
·
Bagaimanakah
perkembangan tari jaipong di Indonesia?
·
Apa saja gerakan
tari jaipong?
·
Apa saja pola
tari jaipong?
·
Sebutkan
macam-macam penari jaipong!
·
Sebutkan macam-macam
alat musik tari jaipong!
1.3 Tujuan Penulisan
·
Untuk mengetahui
sejarah terbentuknya tari jaipong,
·
Untuk mengerahui
perkembangan tari jaipong di Indonesia,
·
Untuk mengetahui
gerakan tari jaipong,
·
Untuk mengetahui
pola tari jaipong,
·
Untuk mengetahui
macam-macam penari jaipong,
·
Untuk mengetahui
macam-macam alat musik tari jaipong
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Sejarah dan perkembangan tari jaipong
Sebelum Jaipongan ini muncul,
terdapat beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini.
Contohnya, tari pergaulan adalah pengaruh dari Ball Room yang biasanya dalam
pertunjukan tari-tari ini identik dengan ronggeng dan pamogoran. Dalam tari
pergaulan, ronggeng tidak lagi digunakan untuk kegiatan upacara, tetapi
berfungsi sebagai hiburan dan acara pergaulan. Ronggeng dalam seni pertunjukan
dianggap mempunyai daya tarik sehingga mengundang simpati kaum pamogoran,
seperti pada tari Ketuk Tilu. Tarian ini sangat populer di kalangan masyarakat
Sunda, tepatnya pada 1916. Tari Ketuk Tilu adalah seni pertunjukan rakyat yang
hanya didukung oleh alat-alat sederhana, seperti waditra yang mencakup rebab,
kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Selain itu, gerak
tariannya tidak mempunyai pola gerak yang baku dan kostum penarinya juga sederhana
(mencerminkan kerakyatan).
Bersamaan dengan pudarnya tari
Ketuk Tilu, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni
pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya kepada seni
pertunjukan Kliningan. Di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi,
Purwakarta, Indramayu, dan Subang) lebih dikenal dengan nama Kliningan
Bajidoran yang peristiwa pertunjukan dan pola tariannya hampir sama dengan
kesenian sebelumnya, yaitu Ketuk Tilu. Di Karawang, beberapa pola gerak
pertunjukan bajidoran diambil dari tari Topeng Banjet yang cukup digemari di
daerah itu. Tarian ini juga masih memperlihatkan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu)
jika dilihat dari unsur koreografis. Gerakannya masih mengandung unsur bukaan,
pencungan, nibakeun, dan lain-lain. Gerakan-gerakan inilah yang pada akhirnya
menjadi cikal bakal penciptaan tari Jaipongan.
Tari Jaipongan yang diciptakan oleh Gugum Gumbira
ini awalnya diberi nama Ketuk Tilu karena tari ini adalah hasil pengembangan
dari Ketuk Tilu. Karya pertamanya ini masih begitu kental dengan warna ibing
Ketuk Tilu (segi koreografi dan iringannya). Kemudian, tari ini menjadi terkenal
dengan sebutan Jaipongan.
Tarian Jaipong ini akan terlihat lebih menawan
ketika dibawakan oleh beberapa penari. Gerakan yang sama dalam tempo yang cepat
membuat mata yang memandang tak berkedip. Apalagi yang mempunyai pikiran kotor,
gerak pinggul penari Jaipong adalah satu gerak yang menjadi pusat perhatian.
Hal inilah yang terkadang memberikan kontoversi terhadap salah satu kesenian
daerah satu ini. Memang sulit untuk mengendalikan pikiran penonton ketika
melihat penari Jaipong yang sedang beraksi.
2.1.2 Perkembangan tari jaipong
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh
masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong” yang
keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri).
Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati
Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian
tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang
erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira
mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980
dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut
lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan
maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.
Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup
besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis
tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari
Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan
kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam
sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha
semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi
dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat,
misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya “kaleran” (utara).
Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada
tahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti
Toka-toka, Setra Sari, Sonteng,Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring,
Rawayan dan tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa
penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming
Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa
Suryabrata dan Asep. Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu
identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara
penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat,
maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi
kesenian kemancanegara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari
Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat
Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan,
kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut
modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
2.2 Gerakan Tari Jaipong
Gerakan tari jaipong sebenarnya sangat sederhana.
Hal ini dikarenakan gerakan tari jaipong hanya terbagi menjadi 4 ragam gerakan,
yakni gerak bukaan, gerak pencungan, gerak ngala, serta gerak mincit.
Gerakan bukaan ialah gerak yang membuka tarian.
Sembari memainkan selendang yang ada di lehernya, penari menari dengan memutari
panggung. Untuk gerakan pencungan ialah ragam gerakan cepat dalam tarian yang
ditemani oleh musik dengan tempo cepat.
Sementara untuk gerakan ngala ialah ragam gerakan
patah-patah atau gerak yang mempunyai suatu titik pemberhentian sebelum pemain
melakukan gerakan lain secara cepat. Lain halnya untuk gerakan mincit, dimana
gerakan perpindahan dari satu gerak ke gerak lain setelah gerakan ngala.
Perlu diketahui, gerakan dalam tarian ini adalah
tarian atraktif dengan gerakan yang dinamis. Tarian ini memiliki gerakan
dominan antara tangan, bahu, pinggul yang digerakan secara lincah serta
dinamis.
Jaipong memiliki dua kategori dalam gerakannya:
1. Ibing Pola (Tarian Berpola)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak
(berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan
saja.
Rangkaian Ibing Pola tari jaipong dapat dibedakan
menjadi empat bagian :
a. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
b. Pencugan, merupakan bagian kumpulan
gerakan-gerakan,
c. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan
pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
d. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan
Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan
sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini
lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa
ikut menari.
2.3 Macam-Macam Penari Jaipong
1. Penari
Tunggal
2. Penari
Rampak (kolosal)
Penari
rampak (kolosal) terdiri dari :
a. Rampak sejenis
b. Rampak Berpasangan
c. Tunggal laki-laki dan tunggal perempuan
d. Berpasangan laki-laki / perempuan
2.4 Macam-macam alat musik jaipong
1. Gendang
Kendang, kendhang, atau gendang adalah instrumen
dalam gamelan Jawa Tengah yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama.
Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu. Jenis kendang yang
kecil disebut ketipung, yang menengah disebut kendang ciblon/kebar.
2. Saron I, II
Saron atau yang biasanya disebut juga ricik ,adalah
salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan. Dalam satu set
gamelan biasanya mempunyai 4 saron, dan semuanya memiliki versi pelog dan
slendro. Saron menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi daripada demung,
dengan ukuran fisik yang lebih kecil. Tabuh saron biasanya terbuat dari kayu,
dengan bentuk seperti palu. Cara menabuhnya ada yang biasa sesuai nada, nada
yang imbal, atau menabuh bergantian antara saron 1 dan saron 2. Cepat lambatnya
dan keras lemahnya penabuhan tergantung pada komando dari kendang dan jenis
gendhingnya.
3. Bonang
Bonang adalah
salah satu bagian dari seperangkat Gamelan Jawa, Bonang terbagi menjadi dua
yaitu Bonang barung dan Bonang penerus.
4. Kacapi Rincik
Kacapi rincik memperkaya iringan musik dengan cara
mengisi ruang antar nada dengan frekuensi-frekuensi tinggi, khususnya dalam
lagu-lagu yang bermetrum tetap seperti dalam kacapi suling atau Sekar Panambih.
Untuk tujuan ini, digunakan sebuah kacapi yang lebih kecil dengan dawai yang
jumlahnya sampai 15.
5. Demung
Demung adalah salah satu instrumen gamelan yang
termasuk keluarga balungan. Dalam satu set gamelan biasanya terdapat 2 demung,
keduanya memiliki versi pelog dan slendro. Demung menghasilkan nada dengan
oktaf terendah dalam keluarga balungan, dengan ukuran fisik yang lebih besar.
Demung memiliki wilahan yang relatif lebih tipis namun lebih lebar daripada
wilahan saron, sehingga nada yang dihasilkannya lebih rendah. Tabuh demung
biasanya terbuat dari kayu, dengan bentuk seperti palu, lebih besar dan lebih
berat daripada tabuh saron.
6. Rebab
Rebab (Arab الربابة atau ربابة - "busur
(instrumen)"),[1] juga rebap, rabab, rebeb, rababah, atau al-rababa)
adalah jenis alat musik senar yang dinamakan demikian paling lambat dari abad
ke-8 dan menyebar melalui jalur-jalur perdagangan Islam yang lebih banyak dari
Afrika Utara, Timur Tengah, bagian dari Eropa, dan Timur Jauh. Beberapa
varietas sering memiliki tangkai di bagian bawah agar rebab dapat bertumpu di
tanah, dan dengan demikian disebut rebab tangkai di daerah tertentu, namun
terdapat versi yang dipetik seperti kabuli rebab (kadang-kadang disebut sebagai
robab atau rubab).
7. Kecrek
Kecrek adalah alat musik perkusi yang digunakan
dalam seni perdalangan.Kecrek berfungsi sebagai alat pemberi isyarat segala
macam bentuk aba-aba iringan maupun gerakan atau sikap wayang dapat juga
berfungsi sebagai penghias irama lagu.Jika dimainkan alat ini akan mengeluarkan
suara crek crek crek.
8. Sinden
Pesindhen, atau sindhen (dari Bahasa Jawa) adalah
sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan, umumnya sebagai
penyanyi satu-satunya. Pesindén yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi
yang luas dan keahlian vokal yang baik serta Pesinden juga sering disebut
sinden, menurut Ki Mujoko Joko Raharjo berasal dari kata "pasindhian"
yang berarti yang kaya akan lagu atau yang melagukan (melantunkan lagu). Sinden
juga disebut waranggana "wara" berarti seseorang berjenis kelamin
wanita, dan "anggana" berarti sendiri. Pada zaman dahulu waranggana
adalah satu-satunya wanita dalam panggung pergelaran wayang ataupun pentas
klenengan.
9. Gong
Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal
di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong inidigunakan untuk alat musik
tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong seperti ini. Gong yang
telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah
dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok
sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis.
10. Juru alok
Dalam karawitan Sunda, alok adalah nyanyian atau
kawih yang biasanya dilantunkan secara solois oleh seorang pria seperti yang
sering kita dengar dalam pergelaran wayang golek, wayang kulit, wayang cepak,
kiliningan, celempungan, bujangga, dan sebagainya. Di lingkungan karawitan
Sunda, orang yang melantunkannya disebut Juru Alok atau Wiraswara. Syairnya
berupa pantun (sisindiran) atau kata-kata yang dirangkai menurut kehendak
penyanyinya. Dalam syair lagunya, seringkali diselipkan nama seseorang sebagai
penghormatan atau sebagai cara untuk mendapatkan saweran. Di daerah Cirebon dan
Indtramayu, menyebut nama seseorang dalam sindenan disebut jambu alasan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tari jaipong adalah tarian tradisional yang berasal
dari Bandung Jawa Barat yang diciptakan oleh Gugum Gumbira. Sejarah tari
jaipong sebenarnya telah mulai muncul pada kisaran tahun 1960 namun baru
dikemas ulang oleh Gugum Gumbira pada tahun 90-an. yang gerakannya sangat
gemulai dan ayu. Tari Jaipong merupakan identitas kesenian Jawa Barat yang
kadang digunakan saat acara-acara penting, upacara, ataupun menyambut
orang-orang asing yang datang ke Indonesia. semakin
perkembangan jaman tari ini memiliki perkembangan yang sangat pesat, dengan
gerakan musik, tapi tetap memiliki unsur tradisional, Tari ini sangat banyak
diminati oleh masyarakat karena
gerakannya yang sangat menarik. Perkembangan tari jaipong bukan hanya tersebar
di jawa barat saja tapi juga telah sampai ke luar negri.
3.2 Saran
Berharap tari jaipong terus di lestarikan sebagai
salah satu kebudayaan indonesia dan terus menerus di lanjutkan oleh para
generasi muda. Penulis juga berharap adanya partisipasi dari para pembaca untuk
tetap mengambil peran penting tentang melastarikan budaya-budaya indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Komentar
Posting Komentar